Ide

Three and A Half Men

PERADABAN.ID – “Kamu kok nggak seperti bapakmu?” kata Kyai Jirjis Ali, guruku dan sahabat ayahku dan putera Kyai Ali Makshum, gurunya ayahku dan sahabat kakekku, “Bapakmu dulu itu tindak-tanduknya jagoan gitu… kamu kok nJanakani”.

Aku jadi berbunga-bunga dan tersanjung karena diibaratkan seperti Janaka, penengah Pandawa yang digilai cewek-cewek seluruh dunia dan akhirat.

Soal bedanya diriku dari ayahku, kukira aku tahu sebabnya.

Aku tumbuh sebagai kanak-kanak yang terpesona kepada tiga ksatria bersaudara, yaitu ayahku sendiri dan dua orang adik-adiknya: Lik Mus dan Lik Adib. Mereka adalah tiga pribadi dengan keunikan watak yang mencolok pada diri masing-masing.

Mungkin anda juga suka

Ayahku memang galak. Lik Mus paling kelihatan suka bercanda. Lik Adib senantiasa anggun dalam setiap kehadirannya, dan pendiam secara agak keterlaluan.

Ada tamu datang menemuinya suatu kali.

“Saya Ahmad, dari Bandung”, si tamu memperkenalkan diri. Lik Adib senyum sekilas,

“Hm hm…”

Lalu mempersilahkan duduk.

“Saya sudah lama mengagumi buku-buku karya panjenengan”.

“Hm hm…”

“Saya kenal sama Pak Kyai Rofi’ Usmani. Katanya dulu teman panjenengan di pondok?”

“Hm hm…”

“Orangnya pintar sekali ya”.

“Hm hm…”

Dan seterusnya dengan sekian banyak “hm” lagi.

Mungkin anda juga suka

Ketika Lik Adib wafat, keluarga memohon Kyai Hamid Baidlowi agar memimpin doa saat pemberangkatan jenazah. Kyai Hamid tak segera menjawab, malah menerawang dengan pandangan kosong.

“Mau didoakan apa?” beliau bergumam akhirnya, “Orang nggak punya dosa begitu…”

Ayahku dan kedua orang pamanku itu laksana segitiga taman bermain dan sekolah hidupku. Belakangan, Lik Taschin hadir di antara mereka setelah menikahi Lik Dah, bibiku. Rupanya, Lik Taschin merasakan keadaan tidak mudah baginya.

“Sudah nasibku…”, ia mengeluh, “Punya tiga kakak ipar, sulit semua. Yang satu suka ngamuk, yang satu tukang ngeledek, satunya lagi tiap diajak ngomong cuma ham hem ham hem saja…”

Ada kemungkinan aku lantas berkembang menjadi kombinasi yang agak berantakan dari ketiganya.

Kiai Cholil Bisri bersama KH Yahya Cholil Staquf

Yahya Cholil Staquf

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button