Ide

Cinta

GUSYAHYA.ID – Namanya cinta, segala yang berhubungan dengan obyeknya akan menyeret jiwa kedalam kenangan akan yang dicinta itu.

“Apakah sebab teringat tetangga di Dzi Salam

Kau campur air mata yang mengalir dari kelopak dengan darah

Ataukah angin berhembus dari arah Kadhimah

Dan kilat menyambar dalam gelap dari arah Idlam”

Namanya cinta, segala yang berhubungan dengan obyeknya akan menyeret jiwa kedalam kenangan akan yang dicinta itu.

Mungkin anda juga suka

Bagi Syaikh Muhammad bin Sa’id Al Bushiri, merasakan hembusan angin dari arah Kadhimah atau melihat kilat berpendar di langit Idlam –itu adalah dua tempat antara Dzi Salam, tempat tinggal beliau, dengan Madinah, tempat bersemayam kekasihnya– sudah cukup membuatnya berurai air mata sampai bercampur darah. Karena rindu.

Kyai As’ad Syamsul ‘Arifin gelisah mendengar Gus Dur menjadi kontroversi dari hari ke hari dengan gagasan-gagasannya yang berani dan perlawanannya terhadap Soeharto dengan manuver-manuver yang lebih berani lagi. Kyai As’ad lantas memanggil Kyai Muchith Muzadi, salah satu sahabat terdekat Gus Dur.

“Tolonglah kau nasehati ‘Durrahman itu!” beliau manyambat, “janganlah terlalu sering bikin pusing orang begitu…”

Kyai Muchith meringis,

“Kok malah saya to, ‘Yai? Saya bisa apa? Mestinya ‘kan justru panjenengan yang bisa menasehati sebagai orang sepuh dan Ahlul Halli Wal ‘Aqdi yang dulu menunjuk Gus Dur jadi ketua…”

Mungkin anda juga suka

Kyai As’ad terdiam sejurus, sebelum akhirnya mendesah,

“Saaya ‘daak biisa…. Kalau ketemu ‘Duurrahman yang ‘kliatan samaa saaya kaakeeknya…”

Ketika aku bersalaman dengan Gus Kelik dan kucium tangannya, Kyai Jirjis Ali, kakaknya, meledek,

“Waaah! Kelik jadi nggaaya ituuuh! Dicucup tangannya segalaaa!”

Ya gimana lagi? Gus Kelik, Gus Muhammad Rifqi bin Kyai Ali Maksum, itu putera Mbah Ali, pengukir akal budiku.

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button