Ide

Cerpen: Lilin Ulang Tahun

GUSYAHYA.ID – Hari ini aku ber-ulang tahun. Umurku genap delapan belas. Seperti biasa, hari ini pun tak ada apa-apa, tak ada yang istimewa. Hanya saja, tadi pagi, makanku agak mewah: pakai telur. Iseng-iseng kubuka album. Kuselusuri album itu seperti melangkahi kembali jengkal-jengkal hidup. Kutemukan potret bayi montok, tersenyum, terlentang menggapai-gapai udara. Bayi itu adalah aku!

Album habis. Aku terhenyak, pada cermin di depanku tampak seorang lelaki muda, gagah dan tampan. Wajah kanak-kanak lenyap dari mukanya, seakan berganti garis-garis yang merupakan lukisan hidup tentang jiwa dan prinsip-prinsip. O, aku telah laki-laki. Bayi itu, si kecil itu, kini laki-laki. Dan itu membuatku terhenyak. Aku merasa tua dan lelah tiba-tiba. Belum pernah aku membayangkan akan menjadi begini: lebih tua dari waktu-waktu lampau.

Kesadaran yang tiba-tiba itu rasanya seperti sebuah keterlambatan. Aku resah dibuatnya. Betapa tidak, aku merasa telah tua sedang aku belum berbuat apa-apa. Waktu-waktu terlintas tergesa dan sia-sia di tanganku. Tak terperikan maluku pada diri sendiri, terlebih pada Tuhan. Rasanya selama ini aku hanya bikin dosa, sedang jiwaku kosong melompong, tidak berbobot dan bermutu.

Aku ingin berbuat sesuatu, itu jelas. Seperti tadi kuulangi dalam perjalananku dari awal. Aku mulai dengan mencari-cari kesalahanku di masa lalu. Dan akhirnya kutemukan apa yang kucari.

Mungkin anda juga suka

Selama ini aku hidup hanya seperti ayam kampung. Artinya: hidup tanpa motivasi dan arah. Selama ini aku tak tahu hidup itu untuk apa. Oleh karena itu segalanya menjadi rutin: menghela napas setiap kali, tidur, makan, berbicara dengan orang lain dan memikirkan keinginan-keinginan kecil yang remeh-remeh. Ah, tak ada gairah, karena memang tak ada yang hendak dikejar. Arah tak ada!

Aku menjadi sadar, aku harus mulai membuat rencana-rencana. Falsafah hidup yang keliru harus disingkirkan. Hari ini tidak hanya berarti hari ini, tetapi ia juga berarti hari esok, lusa dan seterusnya. Yang dilakukan hari ini bukan hanya menerima atau menghadapi kenyataan, melainkan menciptakan kenyataan yang menunjang cita-cita. Aku tidak boleh hanya menyediakan harapan-harapan untuk hari esok, tapi terlebih dari itu dan terpenting adalah rencana. Ya, rencana.

“Buatlah rencana hidup,” kata paman yang dulu pernah kulupakan. “Tentukan target pada tiap tahap hidupmu. Bangkitkan keinginanmu mengenai suatu idealisme. Bikinlah rencana matang. Dengan begitu kita tidak akan shock atau frustasi menghadapi segala keadaan baru.”

Aku bersorak. Kutemukan sekarang. Gairahku pun timbul mendadak. Kucari lilin, kusulut, lalu kutiup. Dan aku bertepuk tangan.

*Cerpen ini pertama kali dimuat di Majalah Kuntum No. 22, Mei 1984

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button