Ide

Pesantren, Peradaban dan Kemanusiaan

GUSYAHYA.ID – Pesantren ini (Sunan Pandanaran, Yogyakarta) milik seorang kiai besar, yang juga sebuah keberkahan bagi saya karena beliau menjadi salah satu guru saya. Saya menghabiskan lebih dari 15 tahun di tempat seperti ini, dan juga lebih dari 120 juta orang Nahdlatul Ulama.

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuhu

Bapak dan ibu sekalian pada acara R20 di Jogja, kami sampaikan kepada Anda latar belakang budaya dan peradaban yang mendasari karakter Nahdlatul Ulama. Sehingga Nahdlatul Ulama memiliki inisiatif dialog dan diskusi ini tentang hubungan antar agama untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan agama dan untuk memiliki masa depan yang lebih damai dan harmonis bagi seluruh umat manusia.

Anda telah meilihat bukan hanya kuil milik komunitas Hindu dan komunitas Buddha, tetapi Anda juga menyaksikan bagaimana kuil-kuil itu menjadi tempat yang aman dan sangat terhormat di hati komunitas Muslim mayoritas.

Dan sekarang kami membawa Anda ke tempat ini, ini adalah salah satu sekolah tradisional kami, lembaga pendidikan agama tradisional di Nahdlatul Ulama. Kami memiliki lebih dari 25 ribu tempat seperti ini. ini adalah salah satu tempat di aman saya dibuai dan sebagian besar orang NU, kader NU dan para pemimpin NU yang mana mereka diasuh, tumbuh, dilatih, dan dididik untuk mejadi siapa kita.

sebagai bagian dari peradaban global, pesantren harus ditunjukkan kehebatannya. Foto: Jailani

Pesantren ini (Sunan Pandanaran, Yogyakarta) milik seorang kiai besar, yang juga sebuah keberkahan bagi saya karena beliau menjadi salah satu guru saya. Saya menghabiskan lebih dari 15 tahun di tempat seperti ini, dan juga lebih dari 120 juta orang Nahdlatul Ulama.

Ini untuk memberi kabar gembira pada Anda tentang latar belakang, mengapa kita bersama NU melakukan hal ini? mengapa kita berada dalam posisi dan kapasitas untuk membela Negara dan Bangsa kita tercinta sebagai bangsa Pancasila, sebagai bangsa yang hidup harmonis di antara berbagai kelompok dan masyarakat yang berbeda. Dengan perbedaan agama, suku, dan bahasa yang menjadi satu kesatuan, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kami harap ini menjadi awal dan perkenalan untuk membangun umat NU, warga pesantren, bersama saudara-saudara kita umat beragama, dan para pemuka agama dari seluruh dunia. Dan kami menawarkan niat tulus kami, untuk tidak hanya menjalin persahabatan, tetapi juga persaudaraan.

Hadirin sekalian, ini adalah malam perpisahan untuk R20, tapi ini bukan akhir dari apa yang kita lakukan, karena R20 dimaksudkan untuk menjadi permulaan saja. Kita semua sadar, bahwa kita memiliki lebih banyak pekerjaan untuk dilakukan ke depannya. Dan ini hanya untuk memberi gambaran kepada Anda tentang bagaimana kita harus mengambil langkah yang diperlukan untuk mewujudkan visi kemanusiaan dan masa depan peradaban yang lebih baik.

Terima kasih, saya harap Anda menikmati malam ini. Kita insyaallah akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk terlibat dan bertemu kembali setelah ini.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuhu

Yahya Cholil Staquf

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button